UKG = Uji Kebodohan Guru

Akhir-akhir ini, guru-guru baik dari tingkatan SD, SMP hingga SMA/K tengah dirisaukan dengan yang namanya Uji Kompetensi Guru atau biasa disingkat dengan UKG. Namanya saja Uji Kompetensi berarti outputnya adalah ‘kompeten’ atau ‘tidak kompeten’. Sebagai seorang guru penulis pun amat risau dibuatnya walaupun menurut kabar angin — entah benar atau tidak bahwa Uji Kompetensi Guru ini hanya sebagai acuan untuk pemetaan guru saja. Ini pun tidak jelas muaranya, apakah nanti ada klasifikasi guru seperti guru ‘amat baik’, ‘baik’, ‘cukup’ dan ‘kurang’? Dan dari klasifikasi tersebut apa tindak lanjutnya? entahlah, hanya tuhan dan kemendikbud saja lah yang tahu, kita hanya bisa menunggu…

Pada hari minggu (15/11/2015) pukul 07.30 s/d 10.00 penulis bersama teman-teman guru mengikuti tes UKG di SMK 36 Jakarta, banyak yang mengeluhkan terkait soal yang agak sulit dimengerti, banyak juga istilah yang gagal dipahami oleh guru lantaran tidak sering bergelut dengan soal tersebut, penulis pun bersama teman guru yang mengajar Matematika mengalami masalah dengan soal yang diberikan. Kami mengajar Matematika di SMK Akuntansi tetapi soal yang diberikan justru Matematika Teknologi, ini kan konyol namanya. Alih-alih Uji Kompetensi Guru, yang ada justru ‘Uji Kebodohan Guru’ karena ukuran kompeten atau tidaknya guru diukur dari kemampuan mengerjakan soal UKG tersebut.

Adanya Uji Kompetensi Guru menurut penulis sangat bagus dalam rangka profesionalisme guru, tetapi ketika prosesnya saja sudah tidak sesuai maka ini akan menjadi barang yang ‘konyol’. Apa yang mau di petakan? Kebodohan guru? Lantaran tidak bisa mengerjakan soal UKG yang soalnya dibayangkan saja engga sama guru, mungkin?

Untuk itu, agar Uji Kompetensi Guru atau UKG ini dapat mencapai tujuan dan sasaranya maka Pemerintah dalam hal ini Kemendikbud harus membuat soal yang sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan guru disekolah. Bukan seenaknya sendiri menetukan soal tanpa memberitahukan materi apa saja yang akan keluar, ini sama saja dengan ‘pembodohan guru’. Dan hasilnya tentu saja menjadi tidak akurat karena ketidaksesuaian tadi, tetapi bagaimanapun penulis mengapresiasi adanya UKG agar guru-guru semakin professional dalam mengajar dan tentu saja profesionalisme guru akan berbanding lurus dengan kemajuan bangsa Indonesia. Hanya teknis dan pelaksanaannya saja yang mesti diperbaiki. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s