Transportasi Pribadi tetap jadi Primadona Bandung

Ditengah hiruk pikuk dan panasnya kota Bandung (10/10), ternyata Bandung masih memiliki pesona alam yang indah, nyaman dan sejuk. Tepatnya di Taman Kota yang terletak disamping kantor Pemkot Kota Bandung, masyarakat beramai-ramai berdatangan, baik untuk sekedar ngobrol ringan dengan teman-teman, sekedar bermain dengan anak-anaknya, ada juga yang memanfaatkan moment untuk berpacaran. Apapun alasannya, ternyata masyarakat sangat menikmati fasilitas umum yang disediakan oleh Pemkot kota bandung tersebut.

Mirna, salah satu pengunjung, disela-sela aktifitasnya yang padat masih menyempatkan diri untuk mengunjungi taman kota Bandung untuk sekedar melepas penat. “saya suka aja ketaman kota kalo lagi ga ada aktifitas, buat nglepas penat soalnya udara disini segar” tuturnya.

Gadis yang masih berusia 21 tahun tersebut juga mengatakan bahwa ia datang ke taman kota dengan menggunakan sepeda motor. Menurutnya menggunakan sepeda motor jauh lebih irit ketimbang menggunakan angkutan umum, selain itu masalah keamanan dan kenyamanan juga jadi alasan. “saya datang kesini naik motor engga naik angkot, ya lebih enak aja irit, nyaman dan aman” tegasnya.

Kemudian, ketika ditanya terkait kebijakan Pemkot kota Bandung yang meminta agar masyarakat lebih mengutamakan menggunakan kendaraan umum dibandingkan dengan kendaraan pribadi, dia mengatakan tidak begitu mengetahuinya. “kalo masalah kebijakan tentang penggunaan angkutan umum saya kurang tahu ya” lanjutnya.

Pemerintahan Kota Bandung dalam hal ini Bapedalda membuat komitmen untuk menurunkan tingkat emisi gas buang melalui Program Langit Biru (PLB) yang merupakan Program Nasional dengan tujuan memperbaiki Kesehatan Masyarakat demi Kehidupan yang lebih baik. Salah satu upaya yang dilakukan Pemkot Kota Bandung adalah mendorong masyarakat agar menggunakan angkutan umum.

Tetapi berdasarkan data Kompas (2/12/2009) Program Langit Biru (PLB) yang digalakan lebih dari 10 tahun silam tidak menunjukan hasil yang signifikan. Kualitas udara Kota Bandung tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Terlepas dari gencarnya kampanye penanaman sejuta pohon dan diperolehnya penghargaan kinerja Langit Biru dari presiden tahun 2008, fakta menunjukkan bahwa kualitas udara Kota Bandung cenderung semakin memburuk.

Dikesempatan berbeda, Kang Ujang berusia 42 tahun yang juga seorang supir angkot jurusan Dago – Kalapa yang suka mangkal di depan hotel 101 Dago mengatakan bahwa angkot yang biasa dibawanya narik sering sepi pelanggan. Menurutnya, orang-orang sekarang lebih suka naik kendaraan pribadi ketimbang naik angkot. “Kalo angkot mah ga selalu penuh yang naik A, seringnya malah sedikit yang naik, mereka kebanyakan punya kendaraan sendiri-sendiri jadi ga mau naik angkot” ucap pria paruh baya itu sambil tersenyum.

Terkait Program Langit Biru (PLB), Kang Ujang juga tidak mengetahuinya. “kalo masalah aturan pemerintah yang menyarankan orang naik angkot semua, saya kurang tahu A” Lanjutnya sambil mengusap-usap rambut.

Di Angkot tersebut juga ada seorang pelanggan bernama Ibu Euis yang berusia 45 tahun, disela-sela kelenggangannya menunggu penumpang yang lain, mengatakan bahwa ia naik angkot lantaran tidak bisa membawa motor sendiri, anaknya yang sering mengantar katanya mempunyai aktifitas sendiri jadi tidak sempat untuk mengantarnya. “Ibu itu naik angkot soalnya anak ga bisa nganter pake motor, kalo bawa sendiri juga ga bisa, makanya naik angkot. Tuturnya lembut.

Dari beberapa narasumber tersebut, ternyata mereka sama sekali tidak mengetahui mengenai program langit biru. Padahal program itu sudah lama digulirkan oleh pemerintah dan ironisnya mereka adalah orang-orang yang seharunya wajib ‘tahu’.

Perlu untuk diketahui, bahwa jumlah kendaraan bermotor di jalanan Kota Bandung yang tidak terkendali menyumbang karbon monoksida (CO) 599 ton per tahun (98 persen dari keseluruhan emisi CO di Kota Bandung). Laju peningkatan pencemaran udara ini terkait dengan peningkatan jumlah kendaraan bermotor terdaftar di Kota Bandung, dari sekitar 416.000 pada tahun 1999 menjadi 700.000 kendaraan pada tahun 2009 (Penelitian Pudji Lestari dari Institut Teknologi Bandung, 2009). Pencemaran CO ini berdampak pada anak-anak, yaitu mereka menjadi kurang cerdas. Bagi orang dewasa, pencemaran CO menyebabkan disfungsi seksual. Kedua hal tersebut merupakan jenis dampak yang sangat menakutkan.

Dengan pertimbangan beberapa hal diatas, penting kirannya Pemkot kota Bandung untuk mensosialisasikan secara masif Program Langit Biru (PLB) ini kepada seluruh masyarakat Bandung. Terutama kepada para pengguna kendaraan pribadi dan supir serta pengguna kendaraan umum (angkot). Selain itu, pemasangan spanduk dan pamflet-pamflet tentang PLB disepanjang jalan Kota Bandung juga penting agar masyarakat dapat teredukasi dan mau beralih ke mode transportasi umum agar kemacetan dan dampak polusi udara dapat ditekan dengan baik. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s