Televisi dan Dampaknya bagi Perubahan Iklim

Dewasa ini, isu seputar perubahan iklim sedang betul-betul digalakan. Pasalnya, dampak dari perubahan iklim sudah benar-benar dirasakan oleh masyarakat tetapi masyarakat kurang mengerti bahwa dampak tersebut adalah akibat dari adannya perubahan iklim. Sebagai contoh, di Jakarta Utara para nelayan akhir-akhir ini mengeluh tentang susahnya menangkap ikan, kemudian belum lagi masalah air sumur yang sekarang katanya asin, kemudian dibeberapa kota besar masyarakat banyak yang mengeluh tentang kondisi siang hari yang semakin panas dan terik.

Disadari atau tidak, perubahan iklim itu pasti terjadi. Tetapi prosesnya bisa cepat atau lambat manusialah yang menentukan karena perannya sebagai pemimpin di Muka Bumi ini.

Perubahan iklim secara sederhana didefinisikan sebagai kondisi dimana iklim dibumi mengalami proses perubahan mulai dari temperature udara yang semakin panas, periode terjadinya hujan yang tidak stabil, intensitas terjadinya badai yang semakin sering terjadi, dan masih banyak lagi.

Wikipedia mendefinisikan Perubahan Iklim sebagai suatu perubahan signifikan yang terjadi pada saat ini mengenai pola cuaca yang dihitung berdasarkan angka statistik dalam jangka waktu tertentu dalam kurun waktu puluhan hingga jutaan tahun. Perubahan iklim ini terjadi oleh banyak faktor seperti proses biologis, radiasi sinar matahari, tekanan tektonik, erupsi gunung merapi, tingkah laku manusia yang menyebabkan terjadinya pemanasan global, dan masih banyak lagi.

Tentunya jika kondisi ini tidak disikapi dan ditangani dengan baik maka dalam waktu singkat bisa jadi ekosistem yang ada di bumi akan punah, bukan?

Sumbangsih Televisi dalam Perubahan Iklim

Kajian mengenai Televisi sudah banyak dibicarakan oleh beberapa pakar yang konsen dalam kajian pertelevisian. Dalam tulisan ini, saya tidak akan menguraikan mengenai hasil kajian tersebut tetapi lebih menyoroti pada persoalan Televisi sebagai salah satu factor dari Climate Change.

Para pakar televisi banyak yang mengatakan bahwa problem televisi hari ini adalah karena orientasinya yang lebih mengedepankan ‘ratting’ dan ‘laba’. Implikasi dari orientasi tersebut adalah konten yang ditayangkan televisi hampir bisa dikatakan tidak bermutu. Dari sisi edukatifnya pun televisi-televisi di Indonesia hampir tidak memberikan edukasi kepada masyarakatnya tetapi lebih banyak membawa efek yang negatif.

Efek negatif menonton televisi secara Psikologis adalah dapat menghilangkan perasaan tertentu, televisi juga menimbulkan budaya konsumtif yang tinggi meskipun tidak terjadi pada setiap orang, namun prilaku konsumtif ini kerap muncul, karena bujuk rayu iklan yang luar biasa menggoda (Desi Iza Af’diati, 2012). Lantas, apa kaitannya efek tersebut dengan Perubahan Iklim?

Cepat atau lambatnya Perubahan Iklim yang terjadi di dunia saat ini, salah satunya ditentukan oleh televisi. Ya, karena televisi mempunyai kewajiban pokok untuk memberikan edukasi kepada masyarakatnya, tetapi sangat disayangkan karena orientasi televisi yang lebih mengedepankan ‘rating’ dan ‘laba’ pada akhirnya edukasi yang diberikan televisi kepada masyarakat hanya sebatas ‘dogma’. Masyarakat kita dipaksa untuk percaya begitu saja dengan televisi tanpa diberitahukan dampak negatifnya dan televisi seperti menjadi agama baru bagi masyarakat kita.

Iklan-iklan yang banyak bertebaran ditelevisi sangat menyedot perhatian kita. Misalnya iklan tentang parfum, iklan alat-alat rumah tangga berbahan plastik, iklan mengenai mode transportasi terbaru, iklan tentang produk AC, dan masih banyak lagi.

Kebanyakan iklan-iklan tersebut mendorong kita untuk membeli dan terus membeli tanpa kita mengetahui mengenai dampak dari penggunaan alat-alat tersebut. Contoh diatas adalah beberapa produk yang dapat memicu akselerasi dari perubahan iklim. Nah, inilah hal-hal yang menurut penulis menjadi pokok permasalah kenapa televisi menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya Perubahan Iklim.

Belum lagi, televisi hanya tertarik memberitakan isu seputar Perubahan Iklim ketika terjadi bencana alam, seperti kasus kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera akhir-akhir ini. Televisi masih menganggap bahwa isu mengenai Perubahan iklim adalah isu yang elitis dan tidak populer.

Oleh karena itu, sebagai bagian dari masyarakat yang peduli dengan Perubahan Iklim, maka sudah sepatutnya kita berefleksi (merenung) dan juga mempersenjatai diri dengan pengetahuan agar kita terhindar dari bujuk rayu iklan di Televisi. Dan bagi pihak-pihak yang berkepentingan khususnya bagi para jurnalis media televisi dan pemiliknya semoga dapat tersadar dan melakukan langkah solutif agar kehidupan di Bumi ini dapat terus berjalan dengan baik dan seimbang. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s