Korupsi ala Pelajar

Dewasa ini, tindakan korupsi yang banyak diberitakan oleh media di Indonesia umumnya lebih menyoroti soal perilaku menyimpang anggota dewan. Perilaku menyimpang tersebut berkaitan dengan tindakan penyalahgunaan amanah untuk kepentingan pribadi mereka yang disebut sebagai ‘korupsi’. Ya, korupsi cukup menghebohkan karena nilainya yang fantastis hingga mencapai triliunan rupiah, luar biasa bukan?

Para koruptor bukanlah orang bodoh, mereka adalah orang-orang cerdas yang dulunya pernah mendapat pendidikan lewat bangku sekolah. Lantas, apakah pendidikannya dulu yang membentuk dia menjadi seorang koruptor?

Pada hakikatnya pendidikan adalah pengaruh, bimbingan, arahan dari orang dewasa kepada anak yang belum dewasa agar menjadi dewasa, mandiri dan memiliki kepribadian yang utuh dan matang. Kepribadian yang utuh dan matang tersebut diberikan melalui penanaman nilai-nilai baik moril, budi pekerti, etika, estetika, dan karakter (Prof. Sugeng Dkk,2002).

Jika merujuk pada pengertian pendidikan diatas, maka jelas bahwa pendidikan yang dienyam oleh para koruptor tidak berhasil membawa mereka kepada kepribadian yang utuh dan matang. Sebagaimana dikatakan blom bahwa pendidikan yang berhasil adalah yang mampu mengkaitkan antara kognitif, afektif dan psikomotoriknya. Dan nampaknya para koruptor ini gagal untuk menghubungkan ketiganya.

Siapa yang disebut Koruptor?

Berdasarkan contoh diatas, jelas bahwa anggota dewan yang tidak amanah adalah koruptor. Tetapi apakah hanya anggota dewan saja? Jelas tidak. Koruptor adalah sebutan untuk orang-orang yang melakukan tindakan korupsi. Lalu apa yang disebut dengan korupsi?

Secara terminologi, kata korupsi berasal dari kata latin yaitu Corruptus atau Corruption. Lalu menjadi Corruption karena diserap dalam bahasa Inggris dan Prancis dan kemudian di Belanda korupsi disebut dengan korruptie, sedangkan di Indonesia disebut korupsi (Hamzah, 1985). Secara esensi, menurut Alatas (1987) bahwa pengertian korupsi sebagai pencurian melalui penipuan dalam situasi yang mengkhianati kepercayaan. Korupsi merupakan wujud  perbuatan immoral dari dorongan untuk mendapatkan sesuatu menggunakan metode penipuan dan pencurian.

Dari pengertian diatas, jelas bahwa yang disebut korupsi adalah tindakan pencurian dan penipuan. Tindakan pencurian dan penipuan yang banyak dilakukan oleh masyarakat kita, salah satunya adalah tindakan ‘mencontek’ dan ‘plagiat’. Jadi selain korupsi anggota dewan, ternyata mencontek dan plagiat pun adalah korupsi yang sering dilakukan oleh pelajar-pelajar kita.

Korupsi ala Pelajar

Dalam ujian -baik UN, UTS, UAS dan Ulangan Harian, banyak siswa/i kita yang sering mengambil jalan ‘kilat’. Bukan kilat karena mereka bisa, tetapi umumnya jalan kilat ditempuh karena -mengambil gagasan tere liye, mereka adalah para pemalas yang pengecut. Ingin dapat nilai yang bagus, tetapi malas belajar, ingin lulus dapat ijasah lagi-lagi malas. Sudah begitu, mudah sekali menyalahkan system, mencari pembenaran dan penuh argument layaknya seorang pengecut.

Mencontek dengan alasan apapun tidaklah dibenarkan, karena mencontek adalah tindakan pencurian dan penipuan yang mencederai nilai-nilai keadilan. Mencontek adalah perilaku korupsi dalam skala kecil yang efeknya jangka panjang.

Tere Liye mengatakan bahwa koruptor dibentuk, digembleng, diproses sejak kecil. Salah satunya adalah tukang nyontek, tukang ngasih contekan. Lantas sibuk membenarkan kalau itu boleh-boleh saja, demi kebaikan, biar lulus, tolong menolong. Dan rasionalisasi perbuatan keji ini terus berlanjut hingga mereka masuk kerja, dan meniti karir.

Koruptor dibentuk oleh proses, dan salah satu prosesnya di dunia pendidikan adalah ‘perilaku mencontek’. Jadi, kita melarang anak mencontek bukan karena kita tidak sayang terhadap siswa. Tetapi justru karena kita sayang dan ingin membentuk pribadi siswa/i kita yang utuh dan matang. Kita ingin membentuk mental siswa menjadi mental pejuang, bukan mental pemalas yang pengecut sebagaimana dikatakan oleh tere liye.

Mudah-mudahan tulisan ini menjadi refleksi bagi siapapun yang menginginkan Indonesia tanpa korupsi. Bahwa tindakan korupsi itu dibentuk oleh proses, salah satu prosesnya dalam pendidikan adalah perilaku mencontek. Tanamkan kepada siswa/i kita dan rubah maindset mereka bahwa mencontek adalah tindakan salah yang akan membawa efek negatif bagi mereka. Dan sebagai guru jangan sekali-kali mentorerir tindakan mencontek, setuju??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s