Kenapa Pendidik dibayar murah, sementara Perusak dibayar mahal?

Problem pendidikan kita tidak melulu soal institusi pendidikan, soal kinerja guru, dan soal kurikulum. Terkadang masalah honor guru yang minim juga turut andil dalam menambah problematika pendidikan kita. Banyak teman-teman guru yang berceloteh bahwa kenapa guru yang punya tugas berat, yaitu mendidik anak bangsa dibayar murah sementara para artis yang lebih banyak merusak akhlak dan moral anak bangsa dibayar mahal?

Memang celoteh para guru ini hanya sebatas celoteh tetapi penulis merasa bahwa ini adalah problem yang cukup serius dan perlu adanya perhatian dari semua komponen pendidikan.

Masalah honor guru di Indonesia rasanya masih cukup tabuh untuk diperbincangkan, betapa tidak seringkali tugas mendidik ini dikaitkan dengan kerja ikhlas, bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, bahwa nanti Allah yang akan membalas setiap ilmu yang diberikan kepada siswa, dan yakinlah walaupun honor guru kecil tetapi insya allah berkah dan dicukupkan. Apakah memang begitu?

Honor guru dengan keikhlasan adalah dua hal yang berbeda. Honor guru berkaitan dengan profesionalisme kerja guru sementara keikhlasan adalah hubungan guru dengan tuhannya. Lantas kenapa alasan itu yang sering didengungkan?

Pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan juga terkesan labil dan tidak begitu peduli dengan nasib guru. Banyak aturan atau regulasi pemerintah yang terkesan menyulitkan guru. Tengoklah masalah honorer K2 yang belum tuntas, masalah sertifikasi guru yang tak kunjung cair, dan masalah dualisme kurikulum yang turut memberikan sumbangsih bagi problem pendidikan di Indonesia yang dampaknya langsung dirasakan oleh guru.

Kemudian, sekolah-sekolah swasta juga banyak yang lebih kepada bisnis oriented. Mereka banyak yang membangun sekolah hanya untuk mengisi kantong-kantong pribadi mereka, banyak guru-guru swasta yang pada akhirnya dibayar murah, mereka dibebani banyak tugas dan kewajiban tetapi hak mereka tidak diberikan sesuai dengan kewajibannya, dan lagi-lagi guru dipaksa untuk kerja ikhlas. Inilah ikhlas ala manusia, mereka sedang belajar untuk menjadi tuhan, benarkah?

Para artis justru bertugas sebaliknya, mereka banyak memberikan contoh negatif kepada anak-anak. Parahnya lagi kiblat anak-anak jaman sekarang adalah TV, segala perilaku mereka, gaya hidup, dan tutur bahasanya sudah mirip seperti sang aktor. Dan para actor ini dibayar sangat tinggi, jauh sekali dengan honor guru, bagaikan bumi dengan langit.

Kita harus jujur, bahwa beberapa komponen pendidikan yang penulis sebutkan tadi harus berbenah diri. Pemerintah harus membuat regulasi yang berpihak kepada guru, sekolah-sekolah swasta juga harus merubah orientasi pendidikan mereka tidak lagi hanya bisnis oriented tetapi mereka juga harus memperhatikan kesejahteraan guru-gurunya.

Mudah-mudahan tulisan ini memberikan sedikit pencerahan agar praktik pendidikan di Indonesia berpihak kepada guru, karena kesejahteraan guru akan berbanding lurus dengan kinerjanya, dan ketika kinerja guru bagus bukan tidak mungkin siswa-siswi kita akan menghantarkan Indonesia menjadi Negara yang maju, bukan? []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s