Menyoal Alam Pikiran Manusia

Kajian psikologi kognitif memiliki sejarah panjang, yang diawali dari para filsuf mempertanyakan asal muasal pengetahuan dan bagaimana pengetahuan itu ditampilkan dalam pikiran. Pertanyaan inilah yang diyakini sebagai fondasi awal ilmu tentang alam pikiran manusia itu dikaji secara mendalam.

Seorang filsuf bernama Aristoteles mengungkapkan bahwa letak pikiran manusia berada di Jantung sebagaimana studi terhadap aksara hieroglif Mesir Kuno menunjukan demikian, namun tidak disetujui oleh gurunya, Plato, yang berpendapat bahwa letak pikiran yang benar ada di Otak sebagai tempat pengetahuan disimpan.

Terkait bagaimana pengetahuan itu ditampilkan dalam pikiran, ada dua pandangan berbeda mengenai hal tersebut, pertama Nativisme, dipelopori oleh Schoupenhauer (Jerman). Aliran ini mengatakan bahwa manusia dilahirkan dengan pengetahuan yang sudah tersimpan di otak secara genetik. Manusia telah memiliki bakat atau pembawaan tertentu sehingga pengaruh dari luar tidak memiliki peran apa-apa.

Yang kedua, Empirisme, dipelopori oleh John Locke (Inggris). Aliran ini mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman sepanjang hidup. Bahwa perkembangan manusia itu ditentukan oleh pengaruh dari luar atau lingkungan tempat mereka dibesarkan.

Kedua pandangan ini jelas memiliki basis argumentasinya masing-masing dan bisa dikatakan benar bisa juga salah tergantung kita akan menganut aliran yang mana, oleh karena muncul perdebatan diantara keduanya muncul sintesa dari kedua pandangan diatas, yaitu aliran konvergensi (dipelopori oleh Wiliam Strern) yang memadukan kedua teori tersebut. Disatu sisi bakat atau pembawaan (genetic) berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang tetapi disisi lain pengalaman juga ikut berpengaruh. Ketika bakat dipadukan dengan pengalaman atau latihan secara serius maka pengetahuan tersebut menjadi sangat optimal.

Lebih jauh lagi, para filsuf modern penganut empirisme mempertanyakan sesuatu yang lebih radikal terkait pikiran manusia, yaitu bagaimana alur atau proses berfikir manusia?

Berkeley, Hume dan Mill mengatakan bahwa ada tiga tahapan proses berpikir manusia, yaitu (1) sensori langsung, (2) penyimpanan dalam memori dan (3) transformasi dalam berpikir.

Sensori langsung adalah proses sensasi melalui mata, telinga, mulut, dan kulit mendapatkan stimulus dari objek kemudian tercipta persepsi. Dari persepsi masuk kedalam memori di otak dan pada tahap akhir manusia mentransformasikan pikirannya. Hal ini sesuai dengan teori stimulus-respond (behaviorisme), yang mempelajari proses berfikir manusia dengan uji coba stimulus-respond.

Pada tahap sensasi ke persepsi, ada dua hal yang sangat mempengaruhi yaitu atensi (perhatian) dan intervensi. Jika atensi yang mempengaruhi maka persepsi akan masuk dengan sanagat baik, tetapi jika intervensi yang masuk maka yang ditangkap persepsi akan berbeda.

Setelah itu, masuk ke memori. Persepsi yang masuk ke memori ada tiga, yaitu persepsi yang kuat, persepsi yang berguna dan persepsi yang penting. Diluar itu persepsi akan dibuang dan tidak masuk kedalam memori otak. []

2 thoughts on “Menyoal Alam Pikiran Manusia

  1. Pingback: Penerapan Teori Sensasi dalam dunia pendidikan | Kukuh Fany Fatkhuloh

  2. Pingback: Penerapan Teori Sensasi dalam Pendidikan | Kukuh Fany Fatkhuloh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s