Kerja Keras VS Kerja Cerdas

Kerja keras dengan kerja cerdas adalah dua hal yang bisa saling terkait, bisa juga saling bertolak belakang. Betapa tidak, seringkali kita mengabdikan diri pada kerja-kerja keras dengan melupakan yang satunya lagi yaitu kerja cerdas.

Ya, kerja cerdas atau bisa dibilang sebagai kerja jangka panjang. Kita membangun sesuatu yang tidak instan jadi, tetapi sesuatu yang bisa dibilang “akan indah pada waktunya”.

Contoh konkritnya kita bisa belajar dari tokoh Pipo dan Endro. Mereka adalah dua pemuda yang bekerja mengambil air dari lereng gunung untuk kebutuhan di desa. Setiap hari mereka bekerja membawa air tersebut untuk ditukar dengan rupiah. Endro adalah sosok yang keras kepala dan berpikir sempit, sementara Pipo adalah sosok yang visioner dan berpikir panjang.

Suatu saat Pipo memiliki ide untuk membangun pipa air dari lereng gunung ke desa, agar mereka tidak perlu repot-repot lagi bolak balik ke lereng dan desa untuk mengambil air. Ide itu disampaikan ke Endro dan dia menolak gagasan itu, endro lebih nyaman bekerja seperti itu setiap hari, apalagi ditunjang dengan body yang kekar dan fisik yang kuat.

Dalam waktu yang singkat, Endro sudah memiliki rumah yang besar dan juga ternak yang banyak dari hasil kerja kerasnya. Gaya hidupnya pun sudah berubah, dari awalnya sederhana, kini dia suka berfoya-foya dan memanfaatkan waktu liburnya untuk minum-minum di Bar. Namun Pipo, dia tetap bekerja keras membawa air namun dalam waktu singkat dia belum memiliki apa-apa, justru uang yang dia dapatkan dari hasil kerja kerasnya sebagian digunakan untuk membangun Pipa saluran air. Banyak orang yang menertawakan gagasannya, tetapi pipo tetap yakin bahwa gagasannya pasti akan berhasil.

Benar saja, dalam jangka 5 tahun Pipa air yang dibuat oleh Pipo menuai hasilnya. Uang mengalir tanpa henti sebagaimana air yang mengalir dari puncak gunung ke desanya. Baik pagi, siang, sore, maupun malam air terus mengalir bahkan ketika tidur pun air tetap mengalir. Sementara Endro dalam jangka 5 tahun, kekayaannya makin habis, fisiknya juga semakin lemah dan dia semakin tidak kuat untuk membawa air dari lereng gunung ke desanya.

Kerja keras dibutuhkan untuk sampai pada tingkat kerja cerdas, karena jika hanya mengandalkan kerja keras saja kita tidak akan mendapatkan sesuatu yang lebih. Bahkan kita akan tetap terbelakang dan menjadi “kuli” di negeri sendiri. Rubah pola pikir kita, mari bekerja jangka panjang, mari menjadi pedagang bukan menjadi pembeli, dan mari berwirausaha… []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s