Mengurai Problem Profesionalisme Guru

2 mei 2015 yang lalu bertepatan dengan hari pendidikan nasional (hardiknas). Moment itu sejatinya jangan hanya dijadikan sebagai ajang seremonial belaka, tetapi seluruh stakeholder dan pemerhati pendidikan turut melakukan sebuah upaya refleksi tentang: apakah sudah ideal pendidikan di Indonesia?

Banyak pengamat mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih jauh kata ideal. Banyak sekali kelemahan dari system pendidikan kita seperti minimnya perhatian pemerintah tercermin dari semakin kompleknya problem pendidikan, kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang professional, dan masih kacaunya UU pendidikan kita.

Dalam tulisan ini tidak semua problem pendidikan akan penulis kupas, tetapi penulis akan lebih fokus menyoroti masalah peran pengajar yang kurang professional sebagai salah satu  kelemahan system pendidikan di Indonesia.

Profesionalisme Guru

Pengajar atau yang biasa disebut guru memiliki peran besar dalam membentuk siswa yang cerdas dan berkualitas, karena guru adalah tenaga penggerak pendidikan yang bersinggungan secara langsung dengan siswa. Untuk itu guru dituntut kreatif dan mengakomodir setiap siswa agar mampu memdapatkan ilmu pengetahuan secara optimal. Inilah pentingnya peran guru sebagai bagian dari profesionalitasnya.

Banyak guru mengartikan kata “mengajar” hanya sebagai proses penyampaian atau transfer of knowledge dari guru kepada siswa, konsep pendidikan seperti ini -meminjam istilah Freire sebagai konsep pendidikan “Gaya Bank”. Konsep ini jelas mereduksi peran guru sesungguhnya dan akan menafikan siswa sebagai subjek yang belajar.

Mengajar harus dimaknai sebagai sebuah kegiatan yang kompleks, yaitu penggunaan secara integratif sejumlah keterampilan dalam menyampaikan ilmu. Pengintegrasian ini harus dilandasi dengan seperangkat teori dan diarahkan oleh suatu wawasan atau pengetahuan.

Seorang tokoh pendidikan Paulo Freire mengatakan bahwa konsep pendidikan “gaya bank” sudah tidak relevan diterapkan karena menafikan peran siswa sebagai subjek belajar dan harus diganti dengan konsep pendidikan “Hadap Masalah” yang menurutnya lebih kontekstual karena lebih mengutamakan proses dialog antara guru dengan siswa. Proses dialog ini menjadi sarana dimana siswa dapat memperoleh makna sesungguhnya sebagai manusia.

Apa yang disampaikan freire menurut penulis sangat tepat mengingat masih banyaknya guru yang masih berparadigma “transfer of knowledge” saja, padahal lebih dari itu, guru harus mampu menciptakan dan mendesain proses belajar pada siswa. Jadi yang terpenting dalam belajar mengajar bukanlah materi yang disampaikan oleh guru tetapi proses siswa dalam mempelajari materi tersebut.

Jadi, guru professional adalah mereka yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik melalui keterampilan-keterampilan khusus agar tercipta sebuah pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan, atau dalam bahasanya freire disebut sebagai proses pembelajaran dialogis.

Peran Universitas Dalam Mencetak Guru Profesional

Guru sebagai motor penggerak pendidikan tentu tidak tiba-tiba ada, tetapi mereka harus ditempa dan mengikuti serangkaian pembelajaran di dalam kampus atau universitas. Dari situlah guru terlahir, apabila mereka tercipta dengan sosok yang tidak professional dan asal-asalan maka kita patut mempertanyakan kualitas dari universitas tersebut.

Berbicara mengenai kampus atau universitas, tentu tidak hanya peran lembaga saja yang dibutuhkan dalam mencetak mahasiswa atau calon guru yang professional, tetapi peran organisasi kampus juga turut menentukan output dari mahasiswa atau calon guru tersebut, baik itu organisasi intra maupun ekstra kampus, karena mereka memiliki peran untuk mewadahi para mahasiswa dalam mengembangkan keilmuannya.

Ketika kampus mampu mencetak mahasiswa atau calon guru yang kompeten dalam bidang keilmuannya, maka hal ini juga akan berpengaruh terhadap kualitas siswa sebagai subjek didik para guru. Karena antara universitas, guru dan siswa memiliki hubungan yang saling berpengaruh dan berinteraksi seperti  putaran roda.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi salah satu sumbangsih pemikiran untuk sedikit merefleksi problem pendidikan di Indonesia.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s