Urgensi Pendidikan Karakter

Hari ini mungkin banyak orangtua bangga jika anaknya mendapatkan nilai 100 disekolah, walaupun bisa saja itu didapatkannya dengan mencontek. Sementara orangtua lainnya, marah-marah karena anaknya hanya mampu mendapatkan nilai 50, padahal nilai itu didapat dengan usaha dan jerih payahnya sendiri. Lantas, adakah yang salah dari pemikiran orangtua tersebut?

Coba kita merenung cermati sedikit tentang problem diatas, jika orangtua hanya peduli kepada anak dengan hanya melihat hasil tanpa proses, penulis fikir itu sangat tidak bijak. Orangtua yang bijak akan melihat proses anak tersebut dalam mendapatkan nilai, jika anak mereka mendapatkan nilai 100 dengan usahanya sendiri maka sepatutnya orangtua memberikan apresiasi kepada si anak, tetapi jika si anak mendapatkan nilai 100 dengan cara mencontek, melihat catatan, tanya kepada teman, atau searching di google maka orangtua wajib menegur dan memberikan pengertian tentang pentingnya kejujuran dan berusaha sendiri sebagai proses dia belajar. Saya kira inilah tujuan utama pendidikan, yaitu menilai dan membentuk berkarakter.

Tetapi realita dilapangan justru berkata lain. Komponen-komponen pendidikan mulai dari pemerintah, sekolah, orangtua maupun masyarakat justru terlalu mengagung-agungkan nilai akademik menurut penulis, tetapi mereka lupa arti penting pembentukan karakter.

Ari Ginanjar seorang motivator sekaligus pendiri ESQ mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia selama ini terlalu menekankan arti penting nilai akademik, mulai dari SD sampai perguruan tinggi sedikit sekali ditemukan pendidikan emosi yang mengajarkan tentang kejujuran, komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, dll. Hal ini jelas menunjukan bahwa pemerintah juga belum maksimal dalam membentuk karakter siswa.

Disekolah, guru-guru pun terkadang hanya fokus menjadikan anak pintar secara akademik saja, tetapi mereka lupa untuk membentuk karakter atau akhlak yang baik kepada siswanya. Karena tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik. Konsekwensi dari tugas mendidik ini adalah guru harus mampu memberikan teladan atau contoh yang baik agar perilakunya ditiru dan petuahnya diikuti oleh siswa. Oleh karena pentingnya tugas guru dalam pembentukan karakter, maka seyogyanya guru dapat menjalankan tugas mendidik ini dengan sebaik-baiknya.

 Mengapa Pendidikan Karakter?

Pendidikan karakter adalah pendidikan menyoal tentang perilaku anak, tabiat anak. Jika anak tidak diajarkan tentang perilaku berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka anak akan mencari kebenaran menurut versinya sendiri, anak bisa saja menganggap bahwa tindakan mencontek adalah sesuatu yang benar selama tidak ketahuan. Ini jelas karakter yang keliru, pemikiran seperti ini harus diluruskan dan dibetulkan.

Karakter berhubungan dengan pikiran. Karena didalam pikiran terdapat seluruh program yang terbentuk dari seluruh pengalaman hidup, kemudian program ini membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikir, sehingga akan mempengaruhi perilakunya. Jika program yang tertanam sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal tadi, maka perilakunya akan selaras dengan hukum alam, dan membawa ketenangan dan kebahagiaan. tetapi jika sebaliknya, maka perilakunya akan membawa kerusakan dan menghasilkan penderitaan.

Oleh karena pentingnya pendidikan karakter, maka ketiga komponen tadi mulai dari pemerintah, sekolah, orangtua dan masyarakat secara bersama-sama harus melakukan upaya-upaya nyata yang dapat membentuk karakter siswa secara optimal.

Pendidikan karakter memerlukan keteladanan dan sentuhan mulai sejak dini hingga dewasa. Periode paling awal dimulai dari keluarga. Pola asuh adalah salah satu faktor yang secara signifikan turut membentuk karakter anak. Pendidikan dalam keluarga adalah pendidikan utama dan pertama bagi anak, yang menentukan karakter awal anak sebelum bergaul dengan lingkungan sekitar.

Kemudian yang kedua, adalah lingkungan sosial dan sekolah. Ketika anak memasuki dunia sekolah dan pergaulan, dia telah membawa karakter yang telah dibentuknya ketika dirumah, jika anak tersebut berperilaku negatif maka tugas sekolah atau guru adalah membetulkan dan memperbaiki karakter siswa tersebut, dan ini pun harus didukung juga oleh orangtua dan lingkungan pergaulannya, bila perlu orangtua juga mulai memperbaiki perilaku anaknya dan memberinya teladan. Agar karakter yang dibentuk disekolah menjadi kuat dan betul-betul diaplikasikan oleh anak.

Dan yang ketiga adalah peran pemerintah, dalam hal ini pemerintah harus membuat kebijakan pendidikan yang berbasis karakter, harus membuat rumusan yang sistematik dan komprehensif mengenai pendidikan karakter, agar kedepan bangsa Indonesia terbebas dari krisis karakter yang selama ini melanda.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan oleh pemerintah dalam membentuk karakter siswa adalah dengan memasukan nilai-nilai karakter tersebut didalam kurikulum pendidikan, karena kurikulum adalah sarana yang tepat untuk mengimplementasikan pendidikan karakter -meminjam istilahnya Michael W. Apple, sebagai sarana indoktrinasi dari system kekuasaan. Ketika kurikulum sudah berbasis karakter, maka bukan tidak mungkin komponen lain pun akan mengikutinya.

Krisis Karakter  

Imbas dari pendidikan yang kurang memperhatikan pembentukan karakter adalah adanya krisis karakter berkepanjangan yang melanda bangsa ini. Tengok saja, para pejabat kita di pemerintahan, banyak yang melakukan praktik suap dan korupsi, dan kebanyakan dilakukan oleh orang-orang yang menyandang predikat “kaum intelektual” yang dulunya pernah merasakan bangku sekolah.

Kemudian, dimedia massa kita sering melihat dan mendengar pelajar-pelajar kita disekolah banyak yang melakukan aksi tawuran hingga memakan korban, pergaulan pelajar yang semakin bebas, dan semakin banyaknya pelajar yang terjerat kasus narkoba dan alkohol, serta yang tak kalah heboh saat ini adalah “pesta bikini” yang akan diadakan oleh siswa SMA untuk merayakan kelulusan UN.

Inilah serentetan kasus yang terjadi akibat krisis karakter yang sedang menimpa bangsa Indonesia, tentunya ini harus menjadi perhatian serius semua elemen bangsa tidak hanya pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran sekolah, orangtua dan masyarakat. Karena bangsa Indonesia kedepan akan dipegang oleh anak bangsa yang saat ini berusia antara 15 sampai dengan 25 tahun, jika kita gagal membentuk karakter kepada generasi penerus, maka akan sangat mustahil bangsa ini mencapai puncak peradaban dunia. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s