Pemanasan Global Dalam Perspektif Islam

Pemanasan global kini bukan lagi sekedar isu, dampaknya sudah sangat kita rasakan. Potret pemanasan global dan dampaknya yang luar biasa tentu saja sangat mengkhawatirkan masa depan kehidupan di bumi. Sayangnya respon dari kalangan agamawan khususnya islam terkesan pasif karena orientasi teologis mereka yang menganggap segala hal atau keadaan yang terjadi sudah menjadi sunatullah lebih dikedepankan.

Padahal dalam islam misalnya, pesan moral terhadap masalah kerusakan alam menjadi salah satu perhatian yang sangat besar baik dalam Qur’an, hadits maupun doktrin ulama fiqih. Pada dasarnya, islam menganggap fenomena alam, termasuk pemanasan global dan perubahan iklim sebagai isu cukup krusial. Alam bukan lagi sekedar tempat manusia menjalani kehidupan, tetapi bahkan menjadi sumber kehidupan.

Pemanasan Global

Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Pada saat ini bumi menghadapi pemanasan yang cepat. Menurut para ahli meteorologi, selama seratus tahun terakhir, rata-rata temperatur ini telah meningkat dari 15oC menjadi 15.6oC. Hasil pengukuran yang lebih akurat oleh stasiun meteorologi dan juga data pengukuran satelit sejak tahun 1957, menunjukkan bahwa sepuluh tahun terhangat terjadi setelah tahun 1980, tiga tahun terpanas terjadi setelah tahun 1990. Secara kuantitatif nilai perubahan temperatur rata-rata bumi ini kecil tetapi dampaknya sangat luar biasa terhadap lingkungan.

Penyebab utama pemanasan global adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi dan gas alam, yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya seperti Metana, Chlor, Belerang dan lain sebagainya. Pelepasan gas-gas tersebut telah menyebabkan munculnya fenomena yang disebut dengan Efek Rumah Kaca (green house effect).

Pemahaman masyarakat kita terhadap istilah “rumah kaca” bisa menjadi joke tersendiri. Bagaimana tidak? mereka memahami efek rumah kaca sebagai efek yang ditimbulkan oleh bangunan bertingkat yang dikelilingi oleh tembok dari bahan kaca. Pemahaman ini kemudian menimbulkan persepsi bahwa lebih baik sekarang bangunan rumah tidak memiliki jendela kaca karena berpotensi menimbulkan bahaya terhadap lingkungan.

Sesungguhnya yang dimaksud rumah kaca adalah rumah dunia kita, yaitu planet bumi yang kita tinggali yang dilindungi lapisan atmosfer. Efek rumah kaca terjadi karena gas-gas yang dilepaskan dari hasil pembakaran bahan bakar fosil bersifat seperti rumah kaca. Rumah kaca bersifat meloloskan radiasi gelombang pendek dari radiasi matahari, tetapi akan menahan pantulan radiasi matahari tersebut yang setelah mencapai permukaan bumi, berubah menjadi radiasi gelombang panjang. Selama matahari bersinar, akan terjadi akumumelihat lasi radiasi sehingga temperatur di dalam rumah kaca akan semakin panas.

Pandangan Islam Terhadap Fenomena Pemanasan Global

Islam memandang alam dan seluruh isinya adalah tanda kekuasaan Allah SWT. Itulah sebabnya seluruh benda yang ada dilangit dan dibumi, baik benda hidup maupun mati bertasbih dan bersujud kepada Allah (Qs. al Hadid, [57]:1). Uniknya, hampir seluruh proses kehidupan di bumi ini membentuk semacam mata rantai (ekosistem) yang saling tergantung, saling membutuhkan  dan saling mempengaruhi  satu sama lain. Secara sederhana, langit ibarat atap bangunan yang terdiri dari udara dan ruang angkasa yang dalam kekuasaan Allah mampu bertahan secara terus menerus diatas permukaan bumi.

Namun demikian, akibat kelalaian dan kecerobohan umat manusia dalam berhubungan dengan alam, keteraturan dan keseimbangan tersebut menjadi rusak. Sehingga pemanasan global menjadi tak terhindarkan lagi. Demikian juga perubahan iklim menjadi fenomena  yang tidak dapat dihindari. Sikap tidak peduli terhadap keseimbangan alam merupakan salah satu sebab dari pemanasan global yang kemudian berpengaruh terhadap perubahan iklim. Penilaian tersebut bisa dipahami dari penegasan firman Allah:

Jika mereka melihat sebagian dari langit gugurmereka akan mengatakanitu adalah awan yang bertindih-tindih”. (Qs. ath-thur: [52]:44)

Fakta kerusakan ekosistem yang berdampak pemanasan global dan perubahan iklim secara tersirat ditegaskan dalam firman Allah:

“dan andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu, pasti rusaklah langit dan bumi ini berikut semua orang yang berada didalamnya. (Qs. al-mu’minun:[23]:71)

Ayat ini seolah-olah ingin mengingatkan bahwa jika kebenaran (sunatullah) berupa keseimbangan ekosistem yang menjadi penyangga alam semesta yang berfungsi membendung pemanasan global kemudian dikalahkan oleh nafsu dan intervensi manusia, maka pemanasan global dengan segala dampaknya akan sulit dibendung. Jika keadaan ini terus terjadi maka hanya menunggu waktu saat kehancuran bumi.

Respon Dunia Islam Dalam Menghadapi Dampak Pemanasan Global

Menghadapi fenomena pemanasan global dan perubahan iklim. Dunia islam sebetulnya sudah mulai bergiat dalam upaya-upaya rintisan bagi perbaikan, pemulihan dan pencegahan pemanasan global. Meski dalam skala yang terbatas, setidaknya upaya ini bias menjadi bukti bahwa dunia islam juga memiliki andil dalam upaya-upaya tersebut.

Salah satu yang cukup fenomenal adalah diselenggarakannya International Conference Muslim Action on Climate Change di Bogor, 9-10 April 2010. Konferensi tentang perubahan iklim tersebut menyerukan agar Negara-negara islam memberikan dukungan politik untuk mengatasi pemanasan global. Konferensi ini diikuti oleh sekitar 200 peserta yang berasal dari 14 negara yang mewakili komunitas muslim.

Direktur eksekutif East Mates Dialogue Center (EMDC), Mahmoud Akef mengatakan, umat islam memiliki potensi besar memberikan kontribusi dalam mengatasi ancaman perubahan iklim. Sebab Al-quran dan hadits telah mengajarkan perlunya umat menjaga lingkungan. “sudah selayaknya umat islam mempraktikan ajaran Al-quran dan haditss untuk mencari solusi permasalahan lingkungan” kata Akef.

Kaum muslimin  di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk memainkan peran-peran tersebut karena memiliki lembaga dan jaringan yang luas sampai keakar rumput. Kewajiban untuk ikut terlibat dalam usaha-usaha ini merupakan panggilan teologis berdasarkan pada perspektif doktrin, upaya mengurangi global dan dampaknya akan membawa manfaat besar bagi kelestarian mahluk hidup dimuka bumi. []


Referensi:

  1. WWF-Indonesia. 2010. Jalan terbaik masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim. Jakarta: LPBI NU
  2. www.google.co.id/pemanasan_global.
  3. www.ghg.unfccc.int/
  4. www.wwf.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s