Pendidik Jangan Hanya Menekan: Tak Ada Toleransi Pelajar Mencontek!

Mencontek adalah tindakan yang memang tidak dibenarkan dalam dunia pendidikan kita. Pasalnya, mencontek adalah sebuah tindakan pembodohan karena siswa tidak memfungsikan akalnya secara maksimal, namun dia hanya menyalin pekerjaan teman. Dan mencontek menjadikan siswa/i kita bermental “juara” dan “pantang untuk gagal”, yang dalam hal ini menghalalkan segala cara agar selalu berhasil dan pantang gagal dalam hidupnya walaupun dengan cara yang tidak etis sekalipun. Tentunya kita semua tidak menginginkan hal itu bukan?

Coba pendidik (Guru maupun Dosen) dan calon pendidik (mahasiswa) telaah lebih dalam lagi, apa sebenarnya penyebab kebanyakan pelajar mencontek? dan kenapa kebiasaan mencontek itu menjadi tren atau budaya pelajar Indonesia kebanyakan?

Jangan hanya menghakimi siswa

Saya sangat jengkel sekali dengan perlakuan pendidik yang sedikit ekstreem, yang anti mencontek dan main sobek kertas ulangan siswa serta mengeluarkannya begitu saja dari kelas ketika  ketahuan mencontek. Menurut  saya itu adalah pembunuhan karakter. Sekali lagi, Jangan hanya salahkan pelajarnya saja!

Coba salahkan pengajarnya juga dong, bisa tidak dia mengajar? apakah semua pelajar benar-benar mengerti dengan apa yang dia ajarkan? dan apakah dia seorang yang Profesional dengan profesinya? karena banyak sekali di jumpai di Media-media (baik koran maupun televisi) berita-berita yang menghebohkan, Pengajar (dalam hal ini adalah Guru) memberikan bocoran jawaban UN kepada anak didiknya, Guru mengerjakan UN anak didiknya, kemudian jawaban itu disebarkan kepada anak didiknya, bukankah itu adalah sebuah hal yang memalukan! berarti pengajar tidak konsisten dong dengan apa yang dia gembar-gemborkan? bahwa: “tak ada toleransi pelajar  mencontek!” coba kita refleksikan secara mendalam apakah itu sudah sesuai?

Salahkan juga sistem pendidikan kita, mengapa dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi pelajaran yang dipelajari sangat banyak? Dan karena itu kita terpaksa mengikutinya. Nampaknya pendidikan kita harus di “Revolusi”.

Tentunya antara pelajar yang satu dengan yang lain memiliki kemampuan atau bakat yang berbeda-beda, tidak semua pelajaran bisa pelajar kuasai, mungkin hal itulah salah satu faktor yang membuat banyak pelajar stress dan akhirnya mengambil jalan “Menyontek”.

Mengapa Pelajar mengambil jalan “Menyontek”? Apakah tidak ada jalan lain selain dengan “Menyontek”?

Dosen Statistika saya pernah berkata sambil tersenyum,”Ujian Bapak/Ibu Open book, biar bapak dapat pahala dan nggak dapet dosa!” Sepintas kata-kata itu sangat bijak sekali menurut saya, tetapi setelah saya renungkan dalam-dalam, saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah hal itu akan baik kedepannya? Bukankah itu malah membuat mahasiswa malas untuk belajar dan berpikir? Sekali lagi, Itu adalah “sebuah pembunuhan karakter”.

Tentunya setiap orang punya perspektif yang berbeda-beda dalam berpendapat, ada yang setuju dan beranggapan, “itu bagus kok, daripada nyontek!” ada juga yang nggak setuju, karena alasan ini, itu dan sebagainya.

Tulisan ini coba untuk membuka pikiran kita semua, baik pengajar, calon pengajar (mahasiswa), dan pelajar! Cobalah kritisi setiap hal-hal yang ada di depan mata kalian, sesuatu yang menurut kita tidak benar… Bukan hanya menggrutu, kemudian menjadi korban yang diam teraniaya. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s