Home > Arsip Kuliah > Makalah Agama dan Budaya

Makalah Agama dan Budaya

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Swt yang telah melimpahkan kenikmatan serta taufiq dan hidayah-Nya kepada kita. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Besar Muhammad Saw, kepada keluarganya, para sahabatnya, tabi’it tabi’in, juga kepada kita selaku umatnya sampai akhir zaman. Mudah-mudahan kelak kita mendapatkan syafa’atnya, amin ya robbal ‘alamin…

Inilah makalah hasil-hasil ringkasan materi dan ditambah dari berbagai sumber buku dan media elektronik ( internet ),  untuk memenuhi tugas mata kuliah Agama Islam 2 , yang tentunya dalam penyusunan makalah ini. Banyak sekali kekurangan dan kesalahan, untuk itu kami mohon kepada dosen pembimbing, juga kepada rekan-rekan mahasiswa untuk memberi kritik, saran, dan perbaikan untuk menambah ilmu dan wawasan dalam penyempurnaan makalah ini dan makalah yang akan datang.

Terima kasih kami ucapkan kepada dosen pembimbing Bapak Muhammad Arifin, S.Ag telah memberikan bimbingan dalam penyelesaian tugas makalah kelompok ini. Mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kami dan bagi semua pembaca dan menjadikan ilmu. Amiin…

Wassalam,

Team Penyusun

Kelompok satu

BAB I

PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang

Agama dan Kebudayaan adalah dua hal yang sangat berbeda. Agama selalu dikatakan bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa, Penguasa Alam Semesta beserta segala isinya, sedangkan kebudayaan adalah produk manusia. Penggabungan kata agama dan kebudayaan, akan melahirkan agama kebudayaan dan kebudayaan agama. Keduanya sangat berbeda.

Agama kebudayaan adalah kepercayaan tentang Tuhan yang berasal dari kebudayaan. Timbulnya kepercayaan ini, karena manusia dihadapkan kepada misteri tentang kehidupannya di muka bumi ini. Manusia merasakan ada sesuatu yang mengatur dunia ini. Siapa? hingga hari ini merupakan misteri yang hanya terjawab secara ideasional yaitu yang disebut Tuhan. Contoh seperti ini adalah aliran kepercayaan dengan berbagai istilah dan aliran seperti dinamisme, animisme.

Sedangkan kebudayaan agama justru sebaliknya. Kebudayaan agama bersumber dari agama yang kemudian melahirkan kebudayaan-kebudayaan, baik dalam tataran ide maupun material dan perilaku. Dalam konsep ini, manusia tidak perlu lagi mencari Tuhan, manusia harus menerima adanya Tuhan. Contoh kebudayaan agama ini adalah munculnya rumah-rumah ibadah, cara hidup bagi yang beragama Islam disebut islami, bagi yang beragama Kristen disebut kristiani dan seterusnya.

Lalu bila ada pertanyaan, mana yang lebih dahulu ada kebudayaan atau agama? Pertanyaan ini tidak dapat disamakan dengan mana terlebih dahulu ada telur atau ayamnya. Pastinya jawabannya adalah kebudayaan. Kebudayaanlah yang lebih dahulu ada daripada agama. Bukti-bukti mendukung pendapat ini, hingga saat ini masih ditemukan yaitu masih ada masyarakat yang belum beragama, namun mempunyai kebudayaan.

1.2       Pembatasan Masalah

Dalam pembahasan makalah ini penyusun membatasi pokok permasalahan sebagai berikut:

  1. Pengertian Agama
  2. Tujuan Agama
  3. Kronologis Terciptanya Agama
  4. Teori Evolusi Agama
  5. Agama Dalam Perspektif Budaya
  6. Nilai-Nilai Dasar Islam Tentang Kebudayaan

1.3       Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan  makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Agama Islam 2 dan diharapkan dapat membantu para mahasiswa memahami lebih dalam lagi tentang Masalah Agama dan Budaya.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1       Pengertian Agama

Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta āgama  yang berarti “tradisi”. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan ber-religi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama merupakan  sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut. Agama juga dapat diartikan A = tidak, gama = kacau. Agama sama dengan tidak kacau, sama dengan tentram. Atau masih dalam pengertian yang senada dalam bahasa yang lebih sederhana, agama bertujuan memberi ketentraman kepada pengikutnya (umat manusia) yang dikaitkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu (KUBI, 1995).

Secara umum, ada yang mengatakan bahwa agama langit/ samawi merupakan ajaran atau syari’at dari Tuhan yang diturunkan dengan jalan wahyu, diturunkan kepada manusia melalui wahyu. Adapula yang mengatakan definisi agama secara umum adalah kepercayaan yang suci yang terkumpul dalam suatu set prilaku yang menunjukkan ketundukan pada suatu Dzat, kecintaan, hinaan keinginan dan kekaguman. (muqoronatul adyan KMI Gontor)

Mukti Ali berpendapat bahwa ada tiga argumentasi yang dapat dijadikan alasan dalam menanggapi statemen “Barangkali tak ada kata yang paling sulit diberikan pengertian dan defenisi selain dari kata agama.”.

Pertama karena pengalaman agama adalah soal batin dan subjektif. Kedua barangkali tidak ada orang yang begitu semangat dan emosional daripada membicarakan agama. Karena itu, membahas arti agama selalu dengan emosi yang kuat dan yang  ketiga  konsepsi tentang agama akan dipengaruhi oleh tujuan orang yang memberikan pengertian agama.

Secara terminologi dalam ensiklopedi Nasional Indonesia, agama diartikan aturan atau tata cara hidup manusia dengan hubungannya dengan tuhan dan sesamanya.  Dalam al-Qur’an agama sering disebut dengan istilah ad-din. Istilah ini merupakan istilah bawaan dari ajaran Islam sehingga mempunyai kandungan makna yang bersifat umum dan universal. Artinya konsep yang ada pada istilah din seharusnya mencakup makna-makna yang ada pada istilah agama dan religi.

http://definisi-pengertian.blogspot.com/2010/08/pengertian-agama.html

2.2       Tujuan Agama

Tujuan agama adalah memberikan petunjuk pada manusia, sehingga dengan kekuatan petunjuk agama akan menyampaikannya menuju keharibaan ilahi. Dengan demikian agama adalah perantara dalam membantu tugas manusia untuk merealisasikan tujuan mulianya.

Menurut Rudolf Pasaribu (Pasaribu, 1988:10-13), tujuan agama adalah:[1]. Mengajarkan manusia tentang asal-usulnya. [2]. Mengajarkan Manusia tentang moralitas. [3]. Mengajarkan manusia menghargai dan menghormati orang lain. [4]. Mengajarkan manusia tentang tujuan kehidupan. [5]. Mengajarkan manusia memelihara keseimbangan. [6]. Memberikan bimbingan dalam hidup. Dan [7]. Menentramkan batin.

Moh. Rifai (Rifai. 1984:17-18) berpendapat bahwa faedah agama terhadap kehidupan manusia adalah sebagai berikut:

  1. Mendidik manusia supaya mempunyai pendirian yang tentu dan terang, manusia mempunyai sikap yang positip dan tepat.
  2. Agama mendidik manusia supaya tahu mencari, memiliki ketentraman jiwa. Orang yang bergama dapat merasakan bagimana besarnya pertolongan agama pada dirinya, lebih-lebih ketika dia ditimpa kesusahan dan kesulitan.
  3. Agama adalah suatu alat untuk membeaskan manusia dari perbudakan materi. Agama mendidik supaya orang jangan dapat ditundukkan oleh materi dan benda. Manusia disuruh tunduk hanyalah kepada Allah yang Maha Esa. Agama memberi modal supaya manusia berjiwa besar, kuat dan tidak gampang ditundukkan oleh siapapun.
  4. Agama mendidik manusia supaya berani menegakkan kebenaran dan takut untuk melakukan kesalahan. Kita mengerti kalau kebenaran sudah tegak, di sanalah manusia akan mendapat kebahagian dunia dan akhirat.
  5. Agama banyak memberikan sugesti kepada mansuia agar dalam jiwa mereka tumbuh sifat-sifat utama, seperti rendah hati, sopan santun, hormat menghormati dsb. Agama melarang orang agar jangan bersifat sombong, congkak, merasa tinggi dan sebagainya.
  6. Agama mendidik orang supaya untuk kemakmuran masyarakat dan negara dianggapnya sebagai amal saleh dan sebagainya.

Menurut I.B. Oka Punyatmadja (Punyatmadja, 1987:13), tujuan agama menuntut umat manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup berupa kesucian batin laksana dan budi pekerti yang luhur (dharma) yang memberi kebahagian dan kesejahteraan materil kepada sesama manusia dan mahluk yang disebut Jagadhita dan memberi ketentraman rohani, sumber kebahagian yang abadi, sukha tanpawali dukha yang tiada didasarkan atas terpenuhinya nafsu duniawi, memberi kesucian dan menyebabkan roh bebas dan penjelmaan serta merasakan manunggal dengan Tuhan (Moksa).

2.3       Kronologis Terciptanya Agama

Ada beberapa teori atau pendapat perihal asal mula agama dalam kehidupan manusia. Pertama teori yang dikemukakan oleh Tylor yang kemudian dikenal dengan nama teori Tylor. Menurut Tylor asal mula agama adalah kepercayaan manusia tentang adanya “jiwa”. Manusia menyadari adanya ‘jiwa’ atau ‘roh’ dikarenakan dua hal yaitu peristiwa hidup dan mati dan peristiwa mimpi. Kedua yang dikenal dengan teori Marett, menurut Marett pokok pangkal dari perilaku keagamaan bukanlah keper-cayaan terhadap roh-roh halus, melainkan timbul karena perasaan rendah diri manusia terhadap berbagai gejala dan peristiwa yang dialami manusia dalam hidupnya.

Ketiga teori Frazer, menurut Frazer manusia dalam memecahkan berbagai masalah dalam kehidupannya dengan menggunakan akal dan sistem pengetahuan. Akal manusia itu terbatas, semakin rendah budaya manusia semakin kecil dan terbatas kemampuan akal dan pikiran dan pengetahuannya, dikarenakan ketidakmampuannya dalam menggunakan akal dan pikirannya untuk memecahkan permasalahan ini, maka manusia menggunakan “magic”. Namun karena dengan “magic” pun ternyata tidak mampu mengatasi masalah yang berada di luar batas kemampuan akalnya, maka mulailah manusia percaya bahwa alam semesta ini didiami oleh para makhluk halus, roh-roh halus yang lebih berkuasa daripada manusia sendiri. Seterusnya manusia mulai mencari hubungan dengan mahluk-mahluk halus tersebut, sehingga dengan demikian timbullah agama (relegi).

Keempat teori Schmidt, menurut Schmidt bahwa ‘monotheisme’ kepercayaan terhadap adanya satu Tuhan, sesungguhnya bukan penemuan baru tetapi sudah ada sejak dahulu kala. Bahwa diberbagai suku bangsa sudah ada kepercayaan terhadap adanya satu Dewa yang merupakan dan dianggap dewa tertinggi yang mencipta alam semesta dan seluruh isinya, serta sebagai penjaga ketertiban alam dan kesusilaan. Kelima teori Durkheim, menurut Durkheim, pada masyarakat yang masih sederhana tingkat budayanya belum mungkin dapat menyadari dan memahami tentang Jiwa yang berada dalam tubuh manusia yang hidup dan jiwa yang sudah lepas dari tubuh menjadi roh-roh halus dari orang yang sudah mati (Hadikusuma, 1993: ).

2.4       Teori Evolusi Agama

Saat manusia mulai menggunakan keahlian berfikirnya, sejak saat itu pula pemikiran mengenai sesuatu yang  “Maha”  terjadi. Manusia mulai berfikir di dunia ini harus ada sesuatu yang super yang menjadi pusat dari segalanya. Maka dapat dilihat dari masa kemasa perkembangan tentang hal ini sangat dinamis. Tidak dapat dipungkiri, pemikiran seperti ini menimbulkan polemik baru. Sugesti bahwa yang memiliki kekuatan adalah yang berkuasa memaksa manusia untuk berjiwa penguasa. Dari berbagai belahan dunia, jiwa penguasa timbul satu per satu. Hasrat ingin menciptakan nyawa “ketuhanan” pada diri sendiri tampak begitu jelas.

Dimulai dari zaman prasejarah, saat manusia masih berkomunikasi secara lisan tanpa mengenal tulisan. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki mereka mulai mengimani bahwa manusia membutruhkan kekuatan besar diluar diri mereka yang dapat mengendalikan segalanya. Maka dari itu muncullah kepercayaan-kepercayaan primitif seperti animisme dan dinamisme. Kepercayaan yang mereka anut bukan merupakan kepercayaan yang terstruktur. Kehidupan mereka belum mengenal suatu aturan, undang- undang bahkan baik-buruk. Akan tetapi kepercayaan mereka terhadap kekutan spesial yang dapat melindungi kehidupan mereka dan keterunannya.

Zaman kian bergeser. Pada zaman Yunani Kuno, seorang bernama Aristoteles muncul dengan teori Geosentris. Teori ini menyatakan bahwa sesungguhnya bumi merupakan pusat edar dari seluruh isi alam semesta. Kemudian disambut dengan teori yang kemudian menjadi pesaingnya, yaitu teori Heliosentris yang dikemukakan oleh Aristarchus. Bersaing dengan teori Aristoteles, Heliosentris mengemukakan bahwa mataharilah yang menjadi pusat dari tata surya. Akan tetapi, kembali lagi pada konsep yang telah dikekumakakan di atas. Manusia memiliki hasrat untuk berkuasa lebih tinggi dari segalanya, maka dalam perkembangannya Geosentris lebih di terima oleh masyarakata di berbagai belahan dunia.

Dengan adanya teori Geosentris kebanyakan manusia mulai menanamkan konsep bahwa manusia merupakan segalanya. Pemikiran tentang tunduk dan patuhnya alam semesta terhadap perputaran bumi, membuat manusia mulai mempercayai adnya kekuatan maha dasyat dalam wujud yang ada di dunia.

Dari hal ini lah, perkembangan tahapan proses manusia mulai mengenal sang maha berkuasa kian marak terjadi. Terdapat berbagai sudut pandang dari proses mengenal Tuhan antara lain secara evolusi.

2.4.1 Tahap Evolusi

Pada konsep ini manusia mengenal dan mulai mencari Tuhan melalui perkembangan secara evolusi. Kepercayaan yang beredar dikalangan masyarakat berkembang berdasarkan perkemabngan dimensi waktu dan tempat. Pada tingkatan ini manusia mempercayai tentang sesuatu kekuatan tertentu yang memegang seluruh kendali dalam kehidupan. Yang termasuk dalam konsep ini meliputi :

  1. 1. Animisme

Kepercayaan ini berasal dari bahasa latinanima yang berarti “roh”. Animisme adalah kepercayaan terhadap makhluk halus atau roh nenek moyang yang diyakini oleh sebagian besar masyarakat primitif. Dalam hal komunitas ini, tempat-tempat tertentu dianggap sebagai tempat keramat yang harus dijaga dan dihormati. Hal ini disebabkan oleh keyakinan bahwa didalam kawasan tersebut masih bersemayam jiwa dari orang-orang terdahulu yang akan menjaga kedamaian keturunannya dari roh jahat yang mungkin mengganggu. bukan hanya dalam kawasan masyarakat primitif, diperkirakan beberapa kawasan suku Dayak di Kalimantan Barat masih menganut kepercayaan ini.

Selain itu, kepercayaan animisme juga mengimani bahwa roh orang-orang terdahulu bisa merasuki raga berbagai jenis hewan yang ada di sekitar komunitas tersebut bermukim dan hewan tersebut dapat berlaku seperti manusia. Contohnya masyarakat suku Nias, mempercayai bahwa roh seseorang yang meninggal karena dibunuh dapat marasuki tubuh harimau dan membalaskan dendam kepada seseorang yang telah membunuhnya. Akan tetapi konsep ini sama sekali tidak bisa disamakan dengan konsep reinkarnasi yang dimiliki oleh masyarakat Hindu dan Budha. Dalam reinkarnasi roh seseorang yang meninggal akan terlahir kembali dalam wujud lain bukan merasuki tubuh makhluk lainnya.

  1. 2. Dinamisme

Dinamisme berasal dari bahasa Yunani dunam os yang berarti daya, kekuatan atau kekuasaan. Kepercayaan dinamisme merupakan salah satu kepercayaan yang marak terjadi pada masa prasejarah. Kehidupan pada masa tersebut, mencipkakan kepribadian yang selalu membutuhkan suatu kekuatan super diluar tubuh manusia itu sendiri. Hal ini yang mengakibatkan komunitas manusia prasejarah mulai mencari sumber kekuatan yang akan membantu hidupnya. Mulailah mereka mencari sumber-sumber kekuatan yang dapat membuat mereka merasa dekat dan aman ketika berada disekitarnya. Akhirnya muncullah kepercayaan dinamisme, suatu kepercayaan yang mengimani adanya suatu kekuatan yang terdapat didalam sebuah benda. Benda yang mereka imani memiliki kekuatan dapat berupa pohon, api, batu, tanah, goa, bahkan manusia itu sendiri. keyakinan ini tidak sirna seiiring berjalannya waktu. Sebagai contoh bangsa Jepang menyembah dewa matahari yang mereka yakini memiliki kekutan luar biasa yang dapat menyinari seluruh alam semesta dan memberikan kehidupan bagi penghuninya.

  1. 3. Politheisme

Bangsa di dunia yang menganut kepercayaan potheisme adalah bangsa Yunani. Dalam kehidupan masyarakatnya mereka mengenal kekutan luar biasa yang berada dalam wujud dewa. Bangsa Yunani meyakinibanyak dewa. Dewa – dewa Yunani kuno tersebut diberi nama sesuai dengan kekuatan, kekuasaa, dan tempat tinggalnya. Tempat tinggal dewa tersebut terdapat di langit, lautan, bumu, dan alam baka. Salah satu dewa yang dikenal memiliki kekuatan paling besar yaitu dewa Zeus. Selain itu terdapat dewa-dewi lain seperti Hera (dewi pernikahan), Hebe (dewi kaum muda), Eris (dewi perselisihan) dan Eileithyia (dewi kelahiran).

  1. 4. Monotheisme

Monoteisme berasal dari kata Yunani,monon yang berarti tunggal danTheos yang berarti Tuhan. Monotheisme adalah kepercayaan bahwa Tuhan itu tunggal dan berkuasa penuh atas segala sesuatu. Kebanyakan kaum monoteis akan mengatakan bahwa monoteisme pasti berlawanan dengan politeisme. Namun pada kenyataannya, pemeluk politeisme sering berlaku selayaknya kaum monoteisme. Ini disebabkan karena keyakinan akan tuhan yang banyak itu tidak berarti bahwa mereka menyembah banyak tuhan. Secara historis, banyak pemeluk politeis percaya akan keberadaan banyak tuhan, tetapi mereka hanya menyembah satu saja, yang dianggap oleh si pemeluk itu sebagai Tuhan yang Maha Tinggi.

2.4.2        Tahap Manusia Mulai mengenal Agama

First stage adalah tahap agraris dimana pada awal manusia berada di bumi, mula mula manusia berorientasi terhadap medan operasionalnya yang bernama alam atau lingkungan tempat nya tinggal. Pada tahap pertama ini, manusia belum mengenal Allah hanya mengenal alam, lalu Allah menyatakan “ Tuhan lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan hujan dari langit, lalu dengan air hujan itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu “

Maka sadarlah manusia bahwa ternyata ada Sang Penguasa yang telah menciptakan langit, bumi serta menurunkan hujan. Dengan air hujan itu pepohonan bisa tumbuh dan berbuah, lalu manusia tinggal memakannya. Pada saat itu manusia masih dalam tahap dilayani Tuhan, suatu tahapan ketika manusia masih bergantung pada suplemen alam. Untuk mencari makan, mereka berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya ( dosen sejarah di kampus tersebut menyebutnya zaman nomaden. Ini merupakan zaman pengembaraan manusia yang pertama.

Lalu Tuhan menurunkan ilmu-Nya kepada manusia. Dengan menatap kenyataan, melihat sebutir biji yang jatuh ke tanah ternyata bisa tumbuh lagi, maka akal manusia mulai berkembang. Dia mulai berkreasi sehingga timbullah proses agraris. Pada tahap pertama ini, ada perkembangan aktivitas dari mencari tanaman menjadi bercocok tanam dan dari berburu menjadi beternak.

2nd Secondo stage adalah tahap sains dan teknologi. Setelah ratusan bahkan ribuan tahun manusia hidup dalam zaman agraris, kemudian Tuhan kembali menurunkan ilmu- ilmu-Nya : …dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Pada tahap ini, manusia telah diberi ilmu pengetahuan sains dan teknologi. Dengan ditemukannya hokum konsep berat jenis, tekanan udara dan hokum hokum fisika lainnya , manusia bisa menyiasati hokum hokum alam itu untuk membuat kapal. Maka mulailah manusia melakukan adventure dengan mengarungi samudera luas. Pindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain, dari satu benua ke benua lainnya. Pada masa inilah telah dimulai proses discovery ( penemuan-penemuan) . Pada tahap kedua ini manusia mengalami perubahan dari hanya bergantung pada alam menjadi mengetahui mekanisme yang ada di balik alam.

Tangga ketiga adalah tahap mengeksplorasi tidak hanya mengembara di muka bumi akan tetapi juga mampu menggapai ruang di luar bumi. ” Dan Dia telah menundukkan matahari dan bulan bagimu yang terus terus beredar dalam orbitnya yang telah ditetapkan ” . Pada tahap ini manusia mulai memasuki abad yang lebih modern, yakni abad eksplorasi. Menjelajah bulan, planet Mars dan planet lain untuk melakukan survey untuk mendapatkan dimensi dimensi baru dalam kehidupannya.

Setelah melalui 3 tahap tangga kehidupannya, yaitu tahap agraris, tahap sains dan teknologi dan tahap eksplorasi maka tidak dapat tidak tahap kehidupan selanjutnya adalah mengenal siapakah yang berada di balik kenyataan-kenyataan yang mengembangkan kehidupan mereka itu. Dan telah ditundukkan malam dan siang bagimu. Bagaimana Allah menundukkan waktu siang dan malam? Bukankah siang dan malam datang dengan sendirinya, mengapa harus ditundukkan untuk kita?

Pada waktu siang hari , tatkala matahari menyoroti detail kehidupan, saat itu adalah waktu untuk melakukan “safari eksternal “ , berjalan ke luar menjelajah alam untuk mengenal, mendayagunakan dan mengembangkan ciptaan-ciptaan Tuhan sebagai wujud dari tanda tanda bekas sujudnya Pada waktu malam hari, saatnya kita harus kembali ke dalam diri sendiri, melakukan “ safari internal”. Ketika kita selalu mengetuk pintu rumah Tuhan dan melakukan dialogue yang intim dan mesra dengan Pencipta alam semesta. Tatkala kita menatap langit, kita temukan bintang-bintang bertebaran . Bumi kita adalah salah satu planet dari sebuah bintang yang bernama matahari. Sedangkan matahari merupakan salah satu bintang yang berada di pinggir sebuah galaxy. Galaxy yang lain jutaan kali lebih besar. Seketika tumbuhlah kesadaran betapa kecilnya manusia jika dibandingkan dengan semesta alam. Lalu kita pun tunduk dengan suka cita syukur di malam malam yang indah sambil memuji Namanya. Dengan menundukkan malam untuk dipakai menemui –NYA berarti ada kehidupan baru yang bernama “ kehidupan malam” sebuah kehidupan untuk “ menggali diri ke kedalaman tak bertepi “.

Tuhanpun berkata pada kita bahwa Dia telah memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan, sejak kita berada di tahap agraris sampai pada tahap eksplorasi. Saat nya sekarang kita tidak lagi berbicara dengan hujan yang menumbuhkan tumbuh2an. Kita tidak lagi berbicara dengan samudera yang membawa kita bertamasya keliling dunia. Kita tidak lagi berbicara dengan sungai-sungai yang mampu membangkitkan listrik, dengan matahari dan planet2. Tetapi kita telah mampu berbicara dengan yang lebih lembut dan yang meliputi semua itu. Kita sedang berbicara dengan yang merencanakan, menciptakan, dan menjalankan semua itu. Kita telah mampu berbicara dengan Tuhan. Itulah tahap akhir, yaitu tahap spiritualis atau tahap agama. Tahap dimana merupakan tahap kehidupan tertinggi. Kedudukannya menurut Al-Quran dan kitab suci lainnya diletakkan setelah tahap penundukkan matahari dan bulan, yaitu tahap eksplorasi.

Jadi, ketika sharing dengan para pakar fisika ada yang mengatakan pada temannya ah, mengapa anda masih beragama padahal anda sudah jadi ilmuwan, insinyur, sudah doctor di bidang fisika? Saya yang mendengar dan berada dalam sharing tersebut ikut komentar bahwa sungguh para saintis dan eksplorer itu memang baru berada di tahap ketiga ( tahap eksplorasi ), mereka belum mampu mencapai tahap ke empat yaitu tahap agama atau spirutualis. Mereka baru bisa mengenal alam, berbicara dengan semesta alam. Sebaliknya, para agamawan dan spiritualis telah mencapai tahap kehidupan yang tertinggi. Mereka tidak lagi berbicara dengan alam, tetapi telah mampu berbicara dengan yang menciptakan dan menggerakkan alam semesta. Sekarang, aku tidak berurusan dengan alam semesta meskipun aku mampu menundukkannya. Sekarang aku sedang berurusan dengan yang menjalankan semesta alam. Kini aku meminta-Nya kemampuan, ilmu, daya, umur panjang agar aku bisa mewakili managerial-Nya di bumi pertiwi.

Saya pun lanjut berkomentar bahwa mestinya para eksplorer itu menyatakan demikian, sehingga tahap kehidupannya naik setingkat menjadi saintis yang agamawan. Tetapi kenyataannya banyak eksplorer yang bukan agamawan dalam pengertian memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama. Padahal setelah mereka berada di tahap eksplorasi, sungguh pada saat itu merupakan momen yang paling tepat untuk naik pada tahap kehidupan berikutnya, yaitu berdialog dengan Tuhan sebagai tahap agama. Pada zaman eksplorasi seperti sekarang ini, sesungguhnya saat yang paling relevan untuk beragama dalam arti yang se dalam dalamnya. Agama harus menjadi alternative bagi kehidupan para eksplorer, saintis, fisikawan, sehingga masalah masalah mereka akan terjawab melewati ungkapan-ungkapan, pemberian dari Allah atas segala permintaan mereka pada-NYa. Terlebih lagi setelah mereka memiliki pengalaman beragama.

Dengan pengalaman beragama, kita akan dapat mengungkapkan hal-hal yang luar biasa. Menggapai kemungkinan- kemungkinan yang menurut akal tidak mungkin. Seperti yang diungkap kan oleh Rumi bahwa jangkauan iman adalah sesuatu yang tidak mungkin. Jika target dari kekuatan akal intelektual hanya bisa menggapai yang mungkin, target iman adalah menggapai yang tidak mungkin. Maka semua yang tak mungkin menurut akal akan menjadi mungkin , itulah jangkauan iman yang sebenar benarnya iman dengan membenarkan dalam qolbunya setelah mengalami pengalaman ruhani perjumpaan kepada-Nya, mengucapkan dengan penuh kemantapan dengan lisannya serta mengamalkan tanda tanda sujudnya pada Tuhan dalam aktivitas sehari harinya. ” Sungguh Hanya Tuhan Yang tau “

2.5 Agama Dalam Perspektif Budaya

2.5.1 Asal Mula Kebudayaan

Kata kebudayaan dalam bahasa Indonesia, berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah, kata ini bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Maka dengan demikian kebudayaan dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Maka kebudayaan adalah segala hasil dari cipta, karsa dan rasa (Koentjaraningrat, 19?: hal 80).

Ada beberapa definisi tentang asal mula kebudayaan, misalnya menurut E.B. Tylor, kebudayaan adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, tata cara dan kemampuan apa saja lainnya, kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Leslie White, kebudayaan adalah suatu kumpulan gejala-gejala yang terorganisasi yang terdiri dari tindakan-tindakan (pola-pola perilaku), benda-benda (alat-alat; atau benda-benda yang dibuat dengan alat), ide-ide (kepercayaan dan pengetahuan) dan perasaan-perasaan (sikap, ‘nilai-nilai’ yang semuanya tergantung pada penggunaan simbol-simbol (Lawang, 1985:109-110).

Kemudian ada lagi yang mendefisikan kebudayaan adalah suatu yang lahir karena adanya pergaulan manusia. Ia merupakan suatu kumpulan yang termasuk di dalamnya adat istiadat, ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, achlak, hukum dan tiap-tiap kesanggupan serta kelakuan manusia yang dijelmakan oleh manusia sebagai anggota dalam suatu pergaulan masyarakat. Dalam pengertian ini kebudayaan termasuk way of life dan way of thinking manusia. Dalam pengertian ini kebudayaan termasuk kebudayaan “materi” dan kebudayaan “rohani” (Rahmat, 1961:27).

Menurut Malinowski, terbentuknya kebudayaan manusia dikarenakan dalam kehidupannya, manusia berhadapan dengan persoalan-persoalan yang meminta pemecahan dan penyelesaian dari persoalan tersebut, terutama dalam kaitan upaya manusia untuk mempertahankan kehidupannya. Inilah awal terbentuknya kebudayaan.

Adapun yang menjadi unsur utama pembentukan kebudayaan ini adalah unsur memenuhi kebutuhan minim, lalu untuk mempertahankan kondisi yang dianggap sudah lebih baik dan menguntungkan ini, maka selanjutnya manusia membuat kondisi buatan. Kondisi buatan inilah yang kemudian disebut kebudayaan dalam bentuk sederhana (Susanto, 1977:146).

Pandangan lain dikemukakan oleh Koentjaraningrat. Menurut Koentjaraningrat (1975:11), kebudayaan adalah seluruh total dari pikiran, karya dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya, karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah melalui suatu proses belajar.

Koentjaraningrat kemudian membagi unsur kebudayaan atas tujuh unsur yang bersifat universal:

1. Sistem relegi dan Upacara Keagamaan.

2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan.

3. Sistem pengetahuan.

4. Bahasa.

5. Kesenian.

6. Sistem mata pencaharian hidup.

7. Sistem teknologi dan peralatan.

Sistem ini dikatakan bersifat universal karena bukan hanya dimiliki oleh satu suku bangsa saja, tetapi dimiliki juga oleh suku bangsa lain, baik suku bangsa yang masih primitif maupun suku bangsa yang sudah moderen. Perbedaan yang mendasar terletak pada kadarnya. Pada masyarakat suku bangsa yang masih primitif kadar kualitas kebudayaan tersebut sangat longgar, sedangkan pada suku bangsa yang sudah moderen kadar kualitas kebudayaan itu sangat ketat dan kompetitif. Faktor perbedaan kadar ini menurut Malinowski, dikarenakan dalam kehidupannya, manusia berhadapan dengan persoalan-persoalan yang meminta pemecahan dan penyelesaian dari persoalan tersebut, terutama dalam kaitan upaya manusia untuk mempertahankan kehidupannya. Inilah awal terbentuknya kebudayaan. Jadi berdasarkan pendapat Malinowski ini, apapun yang dilakukan manusia untuk tetap survival adalah kebudayaan.

Bagian yang paling sulit berubah adalah bagian yang pertama yaitu sistem relegi dan upacara keagamaan. Memang ada orang yang pindah agama, menukar kepercayaannya, tetapi persentasenya sedikit sekali, bila dibandingkan dengan perubahan sistem teknologi dan peralatan.

Ketujuh unsur diatas dapat dikembalikan ke dalam 3 wujud (Koentjaraningrat. 1975:15):

1 Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan dan sebagainya. Wujud ini bersifat abstrak, tidak dapat diraba atau difoto. Wujud ini hanya ada dalam alam pikiran dari warga masyarakat dimana kebudayaan yang bersangkutan hidup.Dengan semakin berkembangnya teknologi, kebudayaan idel ini banyak sudah tersimpan di dalam buku-buku, arsip, rekaman-rekaman tape. Kebudayaan ideal ini disebut juga adat tata kelakuan.
2 Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitet kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud kedua ini disebut juga sistem sosial, yaitu mengenai kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia berinteraksi, beerhubungan, serta bergaul satu dengan lainnya setiap waktu. Wujud kedua ini bersifat konkret, terjadi disekeliling kita, bisa diobservasi, difoto dan didokumentasikan.
3 Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud ketiga ini disebut kebudayan fisik, yaitu berupa seluruh total dari hasil fisik dari aktifitas, perbuatan dan karya manusia.

Ketiga wujud ini dalam kehidupan sehari-hari tidak saling terpisah. Kebudayaan ideal dan adat istiadat mengatur dan memberi arah kepada perbuatan dan karya manusia. Dalam posisi seperti ini, agama termasuk ke dalam sistem relegi dan upacara keagamaan atau masuk ke dalam wujud ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan peraturan-peraturan. Walaupun dalam sasarannya antara agama dan kebudayaan berbeda. Agama sasarannya akhirat dan kesejahteraan rohanian di dunia, sedangkan kebudayaan sasarannya kebendaan di dunia yang nilainya diperhitungkan di akhirat (Gazalba,1988:103).

2.5.2 Hubungan Agama Dengan Budaya

Pakar antropologi A.L. Kroeber dan C. Kluckhon dalam sebuah artikelnya yang masyhur “Culture : a Critical Review of Concepts and Definition” yang terbit pada tahun 1952 telah menganalisis dan mengklasifikasi 179 definisi kebudayaan. Prof. H.A.R. Tilaar mwngatakan bahwa hakikat dan inti dari kebudayaan itu adalah “manusia”, dengan kata lain kebudayaan adalah ciri khas manusia. Hanya manusia yang berkebudayaan. Dalam kajian islam, penyebab utama mengapa manusia memiliki keistimewaan itu disebut karena “akal manusia yang kreatif”, yang mampu membuat gagasan-gagasan inovatif untuk mengubah dan menyempurnakan apa yang telah berhasil dilakukan dan dialaminya. Hal demikian tidak dapat dilakukan makhluk lain termasuk malaikat. Oleh karena itu yang mendapat mandate sebagai “Khalifah Allah di bumi” adalah manusia.

Terdapat masalah isu lama dan menjadi bahan polemic antara para ahli dan menimbulkan pro-kontra, yakni masalah : Apakah agama yang menjadi bagian dari kebudayaan. Ataukah kebudayaan yang menjadi bagian dari agama ?. bagi para antropolog dan sejarawan umumnya menganggap bahwa agama itu merupakan bagian dari kebudayaan (religion is a part of every known culture). Karena memandang kebudayaan sebagai titik sentral kehidupan manusia, dan mereka tidak membedakan antara agama / kepercayaan yang lahir dari keyakinan masyarakat tertentu, dengan agama yang berasal dari wahyu tuhan kepada Rosul-Nya. Sedangkan para agamawan, pada umumnya memandang agama sebagai sumber titik sentrak kehidupan manusia, terutama yang ada kaitannya dengan system keyakinan (credo) dan system peribadatan  (ritus). Agama mempunyai doktrin-doktrin (pokok-pokok ajaran) yang mengikat pemeluknya, diantara doktrin tersebut ada yang bersifat dogmatis (inti keyakinan), yang tidak mungkin ditukar dengan tradisi dan system kebudayaan yang berlawanan. Meskipun demikian, dalam agama terdapat koridor yang memungkinkan adanya penyesuaian atau penyerapan antara agama dengan tradisi dan budaya yang berlaku di suatu masyarakat. Disana terjadi proses saling mengisi, saling mewarnai dan saling mempengaruhi.

Hubungan antara agama dan kebudayaan memang tidak selalu harmonis. Sedikitnya ada empat kategori hubungan antara agama dengan kebudayaan, dengan meminjam formulasi  Prof. G. Van Der Leeuw sebagai berikut :

  1. Agama dan keudayaan menyatu.
  2. Agama dan kebudayaan renggang.
  3. Agama dan kebudayaan terpisah.
  4. Agama dan kebudayaan saling mengisi.

Dengan demikian menjadi jelas, bahwa hubungan antara agam adan kebudayaan tidak bersifat statis, tetapi berkembang secara dinamis dalam perjalanan sejarah. Walaupun pengamatan Prof. G. Van Der Leeuw tadi mencerminkan pengalaman dari masyarakat Barat modern, namun pengamatan itu dapat kita ambil manfaat juga dalam mempelajari perkembangan di Negara kita.

2.5.3 Islam Mencakup Agama dan Budaya

Kebudayaan atau peradaban terbentuk dari akal budi yang berada dalam jiwa manusia. Karena itu bentuk kebudayaan selalu ditentukan oleh nilai-nilai kehidupan yang diyakini dan dirasakan oleh pembentuk kebudayaan tersebut yaitu manusia. Kebudayaan atau peradaban yang berdasar pada nilai-nilai ajaran islam disebut kebudayaan islam. Dalam pandangan ajaran islam, aktivitas kebudayaan manusia harus memperoleh bimbingan agama yang diwahyukan oleh Allah SWT. Melalui para nabi dan rasulnya.

Manusia pada dasarnya tidak mungkin dapat mengetahui seluruh kebenaran, bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menentukan semua kebaikan dan keburukan. Hal ini bisa dibuktikan dengan perbedaan tata nilai yang beraneka ragam dalam kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Suatu hal yang dianggap baik dan terpuji oleh bangsa dalam Negara tertentu, sebaliknya hal itu dianggap sesuatu yang buruk dan tercela disuatu bangsa dan Negara lain. Akal dan fikiran manusia tidak mampu menentukan semua kebaikan atau keburukan, karena itu banyak hal yang dianggap baik oleh akal fikiran ternyata buruk menurut agama. Banyak hal yang dianggap buruk oleh akal fikiran manusia, justru dianggap sesuatu yang terpuji menurut agama.

Dengan demikian, agar kebudayaan terlepas dari jalan yang sesat dan sebaliknya mengikuti jalan yang benar dan terpuji, maka harus dilandasi oleh ajaran agama.

2.6 Nilai-Nilai Dasar Islam Tentang Kebudayaan

Umat islam sejak sejarah perkembangannya yang paling awal sampai pada masa kini, telah banyak menyumbangkan karya-karya besar bagi kehidupan dunia yang merupakan bagian dari kebudayaan dan peradaban mereka. Dalam budaya intelektual umat islam banyak melahirkan tokoh-tokoh besar dibidang ilmu pengetahuan agama, seperti lahirnya tokoh-tokoh aliran dalam ilmu kalam dan karya-karya mereka, tokoh-tokoh dibidang syariat dan fiqih dikenal dengan imam-imam madzab, seperti hanafi, maliki, hambali dan syafi’i. Dalam bidang filsafat juga melahirkan para tokoh dari kalangan filsof muslim, seperti al-Kindi, al-Farabi, al-Razi, , Ibnu Rusyd, dan sebagainya. Dalam bidang tasawuf melahirkan tokoh-tokoh besar, seperti Haris al-Muhasibi, Ibnu Arabi, Dzunun al-Misri, Rubai’ah al-Adawiyah, Al-Ghazali, dan beberapa tokoh lain.

Selain melahirkan tokoh-tokoh besar dalam berbagai bidang tersebut diatas, dalam pengembangan sains dan teknologi juga melahirkan beberapa tokoh, antara lain: Muhammad al – Khawarizmi, ahli matematika, Abu yusuf ya’qub dibidang fisika, ibnu sina dibidang kedokteran dan berbagai tokoh lain yang jumlahnya sangat banyak.

Kebudayaan islam yang melahirkan banyak ahli yang disebutkan diatas diilhami dari ayat-ayat al-Quran dan sunnah Rasulillah s.a.w karena itu keduanya merupakan sumber ilmu pengetahuan. Nilai kebudayaan islam yang harus terus dikembangkan dan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, antara lain: [1]Bersikap Ikhlas. [2]Berorientasi Ibadah. Dan ke[3] Semata-mata untuk kemaslahatan umat Islam..

Referensi:

Dari berbagai buku dan artikel mengenai islam dan budaya.

Categories: Arsip Kuliah Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: